Cerita Inspirasi<Manga is Inspiration For Your Life

Anik Wijayanti (G24100044)

FMIPA-GFM

Laskar 18

Manga is Inspiration For Your Life

Apa itu Manga? Manga adalah istilah untuk komik yang dibuat oleh para komikus dari jepang. Buah tangan Jepang ini sungguh mendunia. Penggambarannya pun dapat dibedakan antara komik Amerika, China, Indonesia atau Korea. Sebelum menjadi culture di Jepang, komik mulai dikenal sekitar 60 tahun lalu. Komik sama sekali belum populer, hanya sebagian saja yang menggemarinya dan anak-anak lebih tertarik pada komik Amerika, seperti Disney. Peralihan dari Disney ke manga sangat sederhana. Ketika dewasa, anak-anak yang terobsesi pada kartun Disney mencoba untuk menggambarnya, namun memberikan sentuhan berbeda. Jadi style-nya mirip Disney, hanya saja orang dalam komik tersebut adalah orang  Jepang sehingga komik Jepang memiliki ciri khas tersendiri.

Dewasa ini Manga amat digemari, tidak hanya anak-anak yang menjadi fans setianya, namun telah merambah ke kalangan remaja. Bahkan orang dewasa masa kini pun terkadang melewatkan waktu luangnya dengan membaca manga.

Di Jakarta seorang komikus Jepang, Machiko Maeyama berusaha merintis karya besar tersebut untuk melahirkan para komikus handal Indonesia. Menurut wanita kelahiran Nagano, Jepang, ini manga bukan sekadar hiburan atau hiasan, model rambutnya, dan bajunya seperti apa. Itu sama sekali kurang dalam. Yang penting dalam sebuah manga itu terkandung suatu pelajaran hidup, pesan tersirat, dan ilmu pengetahuan.

Sejak kecil Machiko memang gemar meluapkan imaginasinya melalui goresan pensil di atas kertas gambar. Pertama kali ia menggambar, lebih tepatnya pada usia 3 tahun, saat itu memang hasilnya tidak langsung bagus, tetapi semangatnya tidak padam, ia terus berusaha mengasah jari-jarinya hingga berhasil menjadi spesialis manga.

Ketertarikan Machiko untuk membuat manga, membawa dirinya untuk menimba ilmu pada sang guru Takaguchi Satosumi selama lima setengah tahun. Pelajaran pertama yang diperolehnya dari Takaguchi adalah pengenalan kepada alat-alat tulis yang meliputi fungsi dan cara pakainya. Yang kedua adalah spirit of mangaka. Sensei Takaguchi juga mengajarkan nilai-nilai moral diantaranya adalah sikap rendah hati untuk menjadi seorang mangaka yang handal.

Machiko Maeyama memulai karirnya pada tahun 1989 sebagai asisten dalam penyelenggaraan Manga Cartoonist, Satosumi TAKAGUCHI. Pada tahun 1990, menginjak usia yang ke-23, Machiko-san  mem-publish manga pertamanya berjudul Gal Na Okusama, jenis 4 koma. Dalam komik tersebut cerita yang dihadirkan adalah tentang hubungan suami istri dimana usia sang istri masih 19 tahun, padahal usia suami sudah 37 tahun.  Dia pergi ke Indonesia di tahun 1997 dan untuk pertama kalinya membuka sekolah Manga di Jakarta pada tahun 2002. Machiko mengajarkan kepada anak Indonesia bagaimana cara menggambar manga. Sejak pertama kali dibuka, terdapat 63 siswa yang menghadiri kelasnya. Semuanya ada di level 1 waktu itu. Kini kelasnya terdiri dari 5 level disertai proffessional course juga. Di samping itu, ia juga mengkostribusikan artikel tentang cara menggambar manga di majalah “Nakayoshi”yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Usaha mangaka ternama ini ternyata membuahkkan hasil yang mengagumkan. Ia dapat membawa karya murid-muridnya di Indonesia untuk menampilkan kira-kira 150 gambar di sebuah pameran di Plaza Senayan, Jakarta. Pameran tersebut merupakan penggabungan karya anak Indonesia dibawah bimbingan Machiko dengan karya-karya manga school Nippon Designer Gakuin, Jepang. Sampai saat ini Machiko masih aktif mengajar dan menerbitkan manga dalam format web di Jepang. Machiko juga bercita-cita Machiko Manga School yang dibangun di Jakarta tersebut hanya punya satu cabang, tetapi sanggup menghasilkan komikus yang terkenal dari Indonesia.

Nilai yang dapat kita petik dari riwayat seorang Machiko Maeyama adalah semangat yang tidak pupus dalam mewujudkan cita-citanya dan cita-cita anak Indonesia yang memiliki impian untuk mengenalkan komik buatan tangan mereka kepada dunia, seperti para komikus Jepang, Korea, maupun Amerika. Seperti halnya karya RA Kosasih yang terbit di Jepang  tahun 90-an atau karya komikus Indonesia lainnya yang menghadirkan ciri khas kebudayaan Indonesia dalam komiknya.

Saya berharap cerita dunia hitam putih yang saya buat dapat menginspirasi Anda untuk terus meng-explorasi bakat terpendam yang Anda miliki. Mungkin Anda dapat memulainya dari mengasah kemampuan emosi Anda kemudian menumpahkannya ke atas secarik kertas putih, seperti yang dilakukan oleh Machiko dan murid-muridnya atau dengan hal lainnya. Apapun mimpi Anda berusahalah menciptakannya di dunia nyata. Jadi, tetaplah semangat!

Ganbatte!

Arigatou gozaimasu for reading…(Niqi)

Cerita Inspirasi<Sepasang Bola Mata

Anik Wijayanti-G240044

FMIPA-GFM

Laskar 18

Sepasang Bola Mata

Sepulang sekolah, seperti biasa aku menaiki bus metromini tujuan Blok-M. Namun kali ini tidak langsung pulang ke rumah. Aku telah berencana mengunjungi sebuah toko buku yang letaknya tak jauh dari terminal. Suasana macet kota Jakarta  yang kerap di jumpai membuat perjalanan tersendat. Kendati suasana jenuh meliputi ku. Sungguh bosan menanti bus ini kembali melaju. Aku yang terduduk di dekat jendela, iseng melongo ke luar.

Kedua bola mata ku mendapati pemandangan rumit di bawah teriknya sinar matahari. Dari sudut ini, tampak puluhan mobil dan motor membentuk barisan bak semut. Di sela kendaraan-kendaraan yang saling berhimpit, beberapa pedagang asongan sibuk menjajakan dagangannya. Dari sudut ini, aku juga mencoba melihat langit. Serpihan-serpihan awan putih leluasa betebaran pada kanvas biru yang membentang luas. Subhannallah ,betapa indahnya lukisan langit karya Sang Khalik.

Sedikit demi sedikit bus yang ku tumpangi berusaha merayap. Dua jam sudah aku duduk diam, dua jam pula perjalanan ku tempuh. Begitu bus metromini itu berhenti, aku langsung menuruninya. Di trotoar sudut jalan, langkah kaki ku tengah terburu-buru, tak sabar berada di tempat tujuan. Saking terburu-burunya, aku tidak sengaja menabrak seseorang. Orang itu berperawakan cukup tinggi. Kerutan-kerutan di dahinya menandakan berapa usianya. Tangan kanan kakek tua itu menggenggam sebuah tongkat kayu. Tanpa ragu, aku segera membantunya kembali berdiri dan meminta maaf.

Setelah beberapa langkah ke depan, ku tengok kembali ke belakang. Kakek itu tampak meraba-raba jalanan dengan tongkatnya. Ternyata beliau tidak dapat melihat. Aku sangat merasa bersalah telah menabraknya. Padahal mata ku masih normal.

Kedua kaki ku terus menyusuri jalan hingga ku temukan toko buku yang ku tuju. Seperti para pengunjung lainnya, hal utama yang wajib dilakukan adalah menitipkan barang bawaan dan membawa barang yang berharga. Dengan eskalator aku menuju lantai dua. Di ruangan itu berdiri rak-rak besar yang dipenuhi buku. Ada juga meja-meja berkaki pendek dengan tumpukan buku yang tertata rapi. Aku langsung tertarik pada rak berlabel “novel“. Tetapi ada yang lebih menarik, meja di depan kasir yang memajang buku-buku dibandrol harga diskon. Dari berbagai buku di situ, ku temukan sebuah novel tak berseri dan tinggal satu-satunya. Judul novel itu mengingatkan ku dengan sahabat ku. Tepat tanggal 22 Januari usianya menjadi 17 tahun. Jadi, aku membelinya sebagai hadiah dan tidak jadi membeli buku percakapan bahasa Korea.

Langit di luar mengisyaratkan hari menjelang petang, aku pun memutuskan untuk pulang. Saat sedang asik berjalan, aku sempat melihat seorang anak kecil terduduk di tengah jalan dengan kaleng di sampingnya. Orang-orang yang berlalu lalang di depannya, melewatinya tanpa rasa iba. Sungguh malang kondisi penyandang tuna graita itu. Tangannya yang cacat tidak sanggup menengadah ataupun menggenggam. Kakinya pun sama sekali tidak sanggup menopang tubuhnya apalagi berjalan. Keterbatasan itu memaksa dirinya untuk hidup dengan mengharap belas kasihan dari tangan-tangan yang rela memasukkan uang receh ke dalam kaleng di sampingnya.

Di ujung jalan raya, aku menyegat bus metromini yabg sama seperti bus yang membawaku kemari. Selama perjalanan pulang, kusandarkan kepalaku pada kaca jendela. Kurenungkan apa saja yang telah kulihat dengan sepasang bola mataku. Sepasang bola mata ini sungguh luar biasa, bagaikan kamera yang dapat merekam tanpa batasan memori. Melalui sepasang bola mata ini aku mendapat sebuah pelajaran. Pelajaran hidup tak terlupakan dari orang-orang dengan keterbatasannya. Betapa beruntungnya aku yang masih bisa bernafas, masih dapat melihat, masih sanggup menggunakan kedua tanganku dan berlari dengan kedua kakiku. Aku sangat bersyukur karena Allah menganugerahi sepasang bola mata ini untuk memandang detail hal-hal di sekitar.

Terkadang orang hanya berjalan lurus ke depan tanpa menengok ke samping kanan atau kiri mereka. Sehingga mereka tidak pandai bersyukur atas apa yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Kemudian manusia yang tidak bersyukur itu menganggap Tuhan tidak adil pada dirinya. Padahal sejak mereka dilahirkan, Tuhan telah memberikan anugrah kepadanya secara cuma-cuma. Seperti sepasang bola mata untuk melihat bukti-bukti kekuasaan-Nya. Jadi, belajarlah menghargai apapun yang kita punya dan telah melekat pada diri kita.

Search
Archives